Sejak kampanye dimulai bulan September lalu, Capres dan Cawapres terus membangun kekuatan untuk mencari dukungan publik dengan berbagai cara dan strategi ada yang blusukan ke pasar pasar tradisional dan ada juga yang turun ke pondok pondok pesantren sekaligus mensosialisasikan dirinya sebagai kandidat capres dan cawapres pada pilpres 2019. Upaya kerja keras itu dilakukan sekaligus untuk.meningkatkan elektabilitasnya.
Menurut survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) Jokowi-Ma'ruf lebih unggul dengan presentase 52,2%, sementara Prabowo-Sandiaga 29,5%.
Survei digelar pada 12-19 Agustus 2018 menggunakan metode multistage random sampling. Wawancara dilakukan secara tatap muka ke 1.200 responden, dengan dilengkapi focus group discussion dan wawancara mendalam.
Elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf unggul dengan 52,2%, sementara Prabowo-Sandiaga 29,5%. Meski demikian, yang perlu dicermati adalah masih tingginya pemilih yang belum memutuskan pilihan, yaitu sebesar 18,3 persen.
"Pasangan Jokowi-Ma'ruf mencapai the magic number, di atas 50%, hampir sama dengan perolehan Jokowi di Pilpres 2014," kata Adjie di kantor LSI, Jl Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (21/8/2018).
Dalam survei kali ini, LSI Denny JA menyoroti enam kantong suara yakni pemilih muslim, pemilih non-muslim, pemilih wong cilik (masyarakat berpendapatan di bawah Rp 2 juta/bulan), pemilih emak-emak, pemilih terpelajar, dan pemilih milenial.
Hasilnya Jokowi-Ma'ruf menang di lima kantong, termasuk emak-emak, dan hanya kalah di kantong suara kaum terpelajar. Sementara Prabowo-Sandiaga unggul di kalangan terpelajar.
"Jokowi unggul di kalangan perempuan. Ini coba diambil Prabowo-Sandi, tetapi pengaruhnya belum signifikan. Keunggulan sampai dua digit," ujar Adjie.
"Kaum terpelajar ini minimal pendidikan S1. Prabowo-Sandi unggul," imbuhnya.
Jika dilihat dari elektabilitas pasangan cawapres, Sandiaga dinilai mampu mendongkrak tingkat keterpilihan Prabowo. Secara personal elektabilitas Prabowo mencapai angka 28,8%, lalu jika bersanding dengan Sandiaga elektabilitasnya naik menjadi 29,5%.
Dari analisis, Sandiaga berhasil mengerek suara di tiga kantong suara yaitu pemilih emak-emak, pemilih pemula, dan pemilih kaum terpelajar (minimal pendidikan S1). Berbeda dengan Ma'ruf Amin yang malah dinilai menggerus elektabilitas Jokowi di empat kantong suara yakni, pemilih muslim, pemilih non-muslim, pemilih terpelajar (minimal pendidikan S1) dan pemilih milenial.
Meski demikian, secara personal tingkat keterpilihan Ma'ruf Amin masih lebih unggul dibandingkan Sandiaga Uno. Dari data yang dipaparkan, Ma'ruf amin mencapai 43,7% sementara Sandiaga Uno di angka 30,7%, dan belum memutuskan 23,3%.
Adjie menyebut sebelum pendaftaran pilpres, elektabilitas Sandi dan Ma'ruf berkisar di bawah 5%. Dari hasil analisis tim LSI Denny JA, ada dua kemungkinan elektabilitas Ma'ruf dan Sandi bisa naik sebegitu cepat.
"Kenapa tinggi? Jawaban yang kita menduga bisa dirasionalkan secara teori historis, memang efek ikutan capres. Kedua, cawapres dapat asosiasi capres sehingga naik secara nasional," jelas dia.
Berbeda dengan hasil survei yang diselenggarakan Indonesia Network Election Survey (INES) yang menyebut Prabowo Subianto bisa memenangkan pemilihan Presiden jika dihelat hari ini. Dalam survei INES itu Prabowo mendapatkan suara 50,2 persen, sementara petahana Joko Widodo hanya mampu mengambil hati 27,7 persen dari total responden.
Direktur Eksekutif INES Oskar Vitriano mengatakan survei tersebut merupakan hasil nama-nama top of mind yang dihimpun dari 2.180 orang di 408 kabupaten dan kota. Di samping itu, survei yang diselenggarakan pada 12 hingga 28 April 2018 ini diklaim memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sebesar 2,1 persen.
Hasil yang sama juga terjadi jika survei dilakukan secara tertutup, yakni hanya mengerucutkan nama ke beberapa pilihan. Tercatat, 54,5 persen responden memilih Prabowo Subianto dan 26,1 persen memiih Jokowi jika pemilihan Presiden dilakukan hari ini.
0 komentar:
Post a Comment