Jelang Debat Pilpres 2019, Akankah Menarik ?

Hasil gambar untuk debat pilpres
tempo.co
Debat perdana Pemilihan Presiden akan berlangsung lebih kurang satu pekan lagi atau tepatnya Kamis (17/1/2019). Untuk pertama kalinya, pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin akan beradu gagasan dengan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Keempat tokoh ini, akan menjelaskan visi dan misinya terkait dengan tema kali ini yang menyangkut masalah hukum, Hak Asasi Manusia (HAM), korupsi, dan terorisme.

Rencananya, debat Pilpres 2019 pertama akan diadakan di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mempersiapkan skema dan aturan debat sedemikian rupa. Dari enam segmen, segmen satu dan enam akan menjadi sesi khusus pembacaan visi-misi dan juga closing statement.

Debat sesungguhnya ada pada segmen dua, tiga, empat, dan lima. Karena pada segmen ini para calon akan membicarakan seputar hukum, HAM, korupsi, dan terorisme.

Ketua KPU Arief Budiman menjanjikan debat kali ini akan lebih seru dari debat pemilu sebelumnya. "Debat ini akan sedikit berbeda dengan dulu. Sekarang hebatnya jauh lebih terasa alur debatnya," ujar Arief di kompleks parlemen, Kamis (10/1/2019).

Dalam pelaksanaannya, penonton yang boleh masuk ke ruang debat Pilpres 2019 nanti merupakan penonton undangan.

Bagi pendukung kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang tidak masuk ruang debat pun disediakan fasilitas nonton bareng alias nobar di luar ruangan.


Debat perdana akankah menarik ?
Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro di kompleks parlemen, Selasa (13/11/2018).
Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro di kompleks parlemen, Selasa (13/11/2018). (KOMPAS.com/JESSI CARINA )

Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai debat Pemilihan Presiden 2019 berpotensi tidak menarik untuk disaksikan. 

Hal itu dikarenakan berbagai batasan-batasan yang ditetapkan dalam debat tersebut, mulai dari adanya kisi-kisi hingga tak adanya pertanyaan secara spesifik mengenai kasus-kasus tertentu.

"Itu namanya, kisi-kisi itu pagar-pagar. Artinya kayak dikasih kacamata kuda, itu enggak asyik menurut saya," ujar Zuhro saat ditemui di sebuah acara diskusi di kawasan Jakarta Timur, Kamis (10/1/2019).

Padahal menurut Zuhro, akan lebih asyik jika debat mengalir begitu saja. Seharusnya, kata Zuhro, calon pemimpin dibiarkan menjabarkan segala sesuatunya dari segi positif maupun negatifnya.

Dengan begitu, ciri khas dari masing-masing calon pemimpin akan terlihat oleh publik. Namun, jika terlalu banyak pagar-pagar yang ditancapkan, Siti menilai itu sebagai bentuk pembodohan publik. 

"Saya lebih seneng orang gentle. Jangan ini di-block, itu di-block, itu pembodohan," tutur dia. 

Menurutnya, hal itu juga memiliki dampak negatif terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan akhirnya berpotensi membuat masyarakat menjadi tak tertarik untuk menyaksikan debat tersebut.



Share on Google Plus

About Zulkarnain

0 komentar:

Post a Comment